Rabu, 22 Juni 2016
SASTRA LAMA
Sastra lama ungkapan tradisional melayu Jambi sudah ada pada abad ke 3 masehi dalam bentuk mantra, seloko, pantun dll. namun perkembangannya lebih pesat sejak abad ke 15 dengan membumingnya kemerdekaan " Adat bersendikan syarak Syarak bersendikan kitabbullah, Syarak mengato Adat memakai " adat yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadist pada perkembangan agama Islam hingga sekarang.
Senin, 15 Februari 2016
Sanggar Mindulahin " Tembo Keluarga Besar Lubuk Nagodang "
PARBO
KALO EMPAT LUBUK NAGODANG
Lubuk Nagodang mengembangkan keturunannya terdiri dari
empat waris keturunan disebut dengan Parbo Kalo Empat, yang terdiri dari :
I. DATUK DEWA NYATO
NINIK MAMAK GELAR DEPETI PADUKO RAJO, beliau memiliki 3 orang anak :
1. Guci Meh
2. Tunggak Meriam
3. Au Merai
II. RAJO SULAH PUTIH NINIK MAMAK GELAR DEPATI
SENGADO TUO (Simpan Bumi) mempunyai anak 4 orang.
1. Tuo Gembong
2. Tino Au Ikut
3. Munyang Marah Said
4. Munyang Au Taruh
III. RAJO SULAH KODRAT GELAR DEPATI SENGADO TUO.
Mempunyai anak 1 Orang :
1. Palimo Rambai
IV. RAJO INDAH TUO
TUNGGU NEGRI NINIK MAMAK GELAR DEPATI INTAN MAJO
Mempunyai 1 orang anak
:
1. Induk Kiding
Dari empat Ninik Moyang tersebut diatas adalah orang yang
pertama kali mendiami desa Lubuk Nagodang dan mengembangkan keturunan dalam hal
ini yang kita uraikan adalah waris perempuan. Mengapa yang diuraikan waris
perempuan ? perempuan adalah penjago rumah penunggu negri sedangkan anak jantan
adalah kudo pelajang bukit penurun lurah nan dalam baju dibadan yang dipakai
keris sebilah yang dibawa. Sedangkan adat yang kito pakai adalah adat tigo
luhah tanah sekudung yang beku dalam karang setio berpegang pada induk undang
tambang teliti yang terdiri dari :
1. Titian teras batanggo batu. Artinyo
adat basendi sarak, sarak basendi kitabullah.
2.
Cermin
gedang nan idak kabur, artinyo baju bajahit yang dipakai jalan
barambah yang ditempuh ayi tagenang
yang disauk.
3.
Lantak
nan idak Guyang, artinyo seorang pemimpin hendaklah arif dan bijak sana
dalam mengambil keputusan tidak condong kekiri dan tidak condong kekanan.
4.
Idak
Lapuk dek hujan dak lekang dek paneh, artinyo diansak tidak mati
dianggung tidak layu.
5.
Kato
saiyo, artinyo bulek ayi dipembuluh bulek kato dimumfakat.
Pepatah adat mengatokan, mengepat ateh nan pepat,
mengacap ateh ngan uncin tibo dimato dipicingkan tibo diperut dikempihkan tibo
dipapan nak berentak tibo diduri nak sengenjek, gong gedang duo suaro titian
galir dalam negeri bak daun babalik adap. Itu idak adat yang dipakai tigoluhah
tanah sekudung, mano adat yang dipakai ?
Seletuh bedil selaham suhak utang emas samo dibayi utang
malu samo dijunjung setinting bak besi seciok bak ayam serumpun bak cehai
satukun bak pahat kaili sehentak satang kamudik serangkuh dayung kabukit samo
mendaki kalurah samo menurun malompat samo patah menyuhuk samo bungkuk tarampai
samo kering tarendam samo basah ico pakai adat tigo luhah tanah sekudung.
Cupak nak dipenoh gantang nak dililih adat lumbago nak
dituang di Lubuk Nagodang idak bulih jalan dianjak uhang paladang cupak dianjak
dagang lalu adat dituka uhang pendatang adat di Lubuk Nagodang diansak idak mati dianggung idak layu beku
didalam karang setio Tigo Luhah Tanah Sekudung.
Jumat, 12 Februari 2016
Sanggar Mindulahin " GENDANG TRADISIONAL MELAYU JAMBI "
Gendang Tradisional Melayu Jambi
Musik Tradisional Melayu Jambi lebih
cendrung pada alat perkusi Membranofon, seperti Gendang panjang dua sisi,
Rebana Siam, Rebana sike, Rebana Rangguk, Beduk, Tabuh, Kompangan, dan Marawis.
Dari masing-masing instrument ini teknik atau cara memainkan berbeda beda baik
posisi maupun bunyi. Namun pada umumnya karakteristik bunyi gendang tradisional
melayu Jambi, lebih cenderung pada bunyi mati seperti bunyi: duk
dan tak
bukan duuung… atau taaang…. Sedangkan gendang yang
digunakan dari masing-masing bentuk tersebut diatas terdiri dari tiga jenis
disebut;
1. Gendang
tingkah
2. Gendang
nyelalu
3. Gendang
dap
a. Gendang tingkah atau peningkah berfungsi
sebagai pemberi isian pada bagian-bagian yang kosong gendang ini memiliki
ukuran lebih kecil dari gendang nyelalu.
b. Gendang
nyelalu adalah gendang dasar untuk memberi tempo, ketukan, atau mat, gendang
ini lebih besar dari gendang tingkah dan lebih kecil dari gendang dap.
c. Gendang
dap adalah peredam bunyi sehingga menghasilkan bunyi yang lembut, gendang ini
lebih besar ukurannya dari gendang
peningkah dan gendang nyelalu.
Langganan:
Postingan (Atom)